Latest

Kategori berita

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on print

BLT Subsidi BBM, Mampukah Lawan Inflasi?

BLT Subsidi BBM, Mampukah Lawan Inflasi?
Ilustrasi kenaikan harga BBM. Grafis: moerni.id

BLT subsidi BBM direncanakan akan segera cair pada awal September. Waktu pencairan hampir berdekatan dengan rencana kenaikan harga BBM. Yang katanya akan naik per 1 September.

 

Sayangnya, sebelum harga BBM naik, harga kebutuhan pokok sudah lebih dulu naik. Minyak goreng, gandum, cabe, hingga telur. Juga termasuk di sektor industri, peternakan dan pertanian. Harga-harga bangunan, pakan ternak bahkan pupuk naik gila-gilaan.

 

Fenomena lainpun ikut muncul. BBM sudah mulai langka. Antrian kendaraan di SPBU ‘mengular’ . Khususnya di daerah-daerah. Namun penjualan BBM eceran justru menjamur.

 

Untuk meredam ‘gejolak’ masyarakat, dilucurkanlah BLT Subsidi BBM. Selama ini, BLT selalu menjadi ‘senjata rahasia’. ‘Senjata rahasia’ yang sudah digunakan oleh presiden-presiden terdahulu, bukan hanya presiden Joko Widodo.

 

Dan kali ini, pemerintah menyiapkan dana BLT subsidi BBM lebih dari Rp24 triliun. Dengan jumlah penerima lebih dari 20 juta kelompok. Masing-masing akan menerima Rp600 ribu.

 

Pemerintah juta menyediakan BLT untuk pekerja berpenghasilan di bawah Rp3,5 juta. Ada 16 juta pekerja. Masing-masing akan menerima BLT senilai Rp600 ribu.

 

Tapi penyaluran BLT juga harus tepat. Harus juga diawasi. Karena jika asal-salan, asal rakyat tenang, bisa-bisa muncul masalah. Kata Ombudsman bisa menimbulkan maladministrasi.

 

Permasalahannya, apakah BLT ini akan mampu melawan inflasi yang akan terjadi?

 

Ekonom Senior Faisal Basri angkat bicara. Menurutnya, kenaikan harga BBM khususnya solar akan sangat berpengaruh pada kebutuhan pokok. “Solar kan (buat) harga barang naik, sehingga inflasinya naik lebih cepat.” kata Faisal kepada CNN Indonesia.

 

BBM adalah salah satu pondasi penting dalam perekonominan. Ketika terjadi pergerakan, walaupun hanya sedikit, maka sektor lainnya akan ikut bergerak.

 

Ketika terjadi kenaikan harga BBM, contohnya solar, maka lonjakan harga akan langsung terjadi. Karea solar masih menjadi sumber energi utama setiap industri. Hampir seluruh industri mengandalkan solar.

 

Dan ketika beban industri naik, jalan keluarnya adalah menaikan harga produksi. Itu artinya kenaikan harga kebutuhan pokok.

 

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengamini. Ia bilang, saat ini banyak pengusaha yang belum siap dengan kenaikan harga BBM.

 

Paska Pandemi Covid-19, kondisi perekonomian belum sepenuhnya pulih. Konsumsi masyarakat belum sepenuhnya meningkat. Ditambah krisis global yang menghantui.

 

Namun siap tak siap, pengusaha harus siap. Karena tak ada yang bisa diperbuat selain patuh. Hanya harapan yang bisa digantungkan. Agar BLT subsidi BBM bisa sedikit membantu.

 

Keputusan menaikkan harga BBM memang berat. Saking beratnya bisa mengguncang kursi empuk presiden. Namun, ketergantuan kepada subsidi BBM juga tidak baik. Bisa bikin APBN jebol.

 

Namun menaikkan harga BBM juga bukan satu-satunya solusi. BLT yang diberikan juga tak bisa membantu selamanya.

 

Semoga saja, pemerintah mengambil keputusan yang adil. Keputusan yang memihak rakyat kecil. Keputusan yang tak membuat ekonomi kerdil. (Dewa for moerni.id)

Leave a Comment