Latest

Kategori berita

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on print

Tangan Mas Eka

Tangan Mas Eka
Mengenang 100 tahun perjuangan Eka Tjipta Widjaja. Sinar Mas untuk Indonesia. Foto: Tempo

6 Agustus – (moerni) – Ketika mendengar nama Sinar Mas, yang terbayang tentu sebuah perusahaan yang super besar. Punya banyak cabang. Punya banyak lini usaha. Punya banyak pekerja. Punya banyak asset dan banyak yang lainnya.

 

Tapi semua yang banyak-banyak itu diawali dari yang sedikit. Yang super besar itu dimulai dari yang sangat kecil. Dimulai dari satu orang. Eka Tjipta Widjaja. Yang telah wafat pada 26 Januari 2019 lalu di usia 98 tahun.

 

Tulisan ini dibuat untuk mengenang sosok Eka Tjipta Widjaja. Perannya dalam membangun Indonesia. Dan 100 tahun Sinar Mas untuk Indonesia. Namun sebelum membahas raksasa bisnis Sinar Mas. Atau lini bisnis lain seperti Asian Pulp and Paper. Akan canggung rasanya jika tak membahas kegigihan Eka dalam membangun kerajaan bisnisnya.

 

Eka memulai semuanya dari bawah. Dari ketidakadaan. Sekitar seabad lalu. Saat pria bernama asli Oei Ek-Thjong itu datang ke Indonesia. Ia datang bersama ibunya. Berangkat dari kota kelahirannya Zhang Zhou, Tiongkok. Naik kapal laut. Berhari-hari bermalam-malam. Menyusul ayahnya Oei Tjek Tjai yang sudah lebih dulu ke Makasar, Sulewasi Selatan.

 

Di Makassar ayahya sudah punya rumah-walaupun berdinding bambu-yang orang sini bilangnya gedhek. Walaupun atapnya dari daun rumbia. Tapi sudah punya usaha kelontong kecil-kecilan.

 

Saat tiba di Makassar usianya baru 9 tahun. Belum bisa bicara bahasa lokal. Bisanya hanya basa Hokkian. Tapi punya tekad dagang yang kuat.

 

Tak hanya membantu ayahnya berjualan di warung. Eka juga ‘jemput bola’ mendatangi rumah-rumah pelanggan. Yang dijual adalah barang-barang ayahnya. Lama-lama berjualan sendiri. Dagangan pertamanya adalah biskuit-seperti yang sudah banyak dikisahkan.

 

Eka memang terkenal dengan otaknya yang cerdik. Sama cerdiknya ketika ia membujuk kepala sekolah. Agar tak memaksanya bersekolah mengulang dari kelas 1. Ia bersimpuh di kaki kepala sekolah. Menciumi kakinya. Memohon agar bisa langsung duduk di kelas 3. Karena kalau harus ngulang dari kelas 1, itu akan menghabiskan banyak waktu. Lagi pula, ia tak mau sekelas dengan anak usia 7 tahun. Akhirnya Eka dipersilahkan duduk di kelas 3.

 

Akal cerdik pula yang jadi modal awal berjualan biskuit. Eka yang tak punya uang, datang ke sebuah toko. Nama tokonya Ming Heng. Ia memohon diberi pinjaman biskuit. Agar si empunya toko percaya-ia serahkan ijazah SD-nya. Ijazah yang didapat dengan susah payah.

 

Cara itupun berhasil. Ia dipinjami empat kaleng biskuit. Lalu dijual-dan uangnya disetor ke pemilik toko. Terus begitu sampai ia bisa mendapatkan enam kaleng biskit. Lama setelah itu, keuntungannya tak lagi bertambah. Mentok. Karena hanya bisa berjualan enam kaleng biskuit.

 

Ia kemudian membeli becak bekas. Becak itu bisa mengangkat lebih banyak biskuit. Bisa angkut sampai 18 kaleng. Untuk mengayuh becak, ia bayar seorang tukang becak. Dengan begitu, keuntungannya bertambah. Ia bisa menabung hingga 2.500 gulden.

 

Uang itu kemudian digunakan untuk memperbaiki rumah. Dinding bambu diganti papan. Atap daun diganti seng. Uang yang dihabiskan sekitar 1.000 Gulden. Sisa uangnya ditabung. Eka kepingin sekali bisa sekolah ke luar negeri.

 

Eka terus menabung untuk mimpinya itu. Ia bekerja ke sana kemari. Mengumpulkan uang dan menabung. Salah satunya dengan cara ikut arisan. Karena saat itu belum banyak bank. Apalagi bank yang mau meladeni seorang anak kecil.

 

Tak lama berselang, Jepang datang menjelang. Menjajah Indonesia-termasuk Makasar. Keadaan kacau. Ekonomi hancur. Si pengelola arisan kabur. Bersama tabungan seluruh anggota-termasuk tabungan milik Eka.

 

Eka pun hancur. Kecewa. Uang arisan yang diimpikan untuk bersekolah ke luar negeri hilang entah ke mana.

 

Peluang kemudian datang menghampiri. Saat duduk-duduk di Pantai Losari ia melihat pasukan Jepang membuang rongsokan sisa perang. Banyak besi-terigu-semen yang dibuang-buang.

 

Ia melihatnya hampir setiap hari. Hingga akhirnya jiwa enterprenurnya bangkit. Akal cerdiknya kembali bermain. Ia ingin membeli barang rongsokan itu. Untuk dijual kembali. Tapi ia tak punya uang. Semua uang ludes dibawa kabur. Bagaimana caranya?

 

Ia kemudian pulang ke rumah. Membawa semua barang-barang yang bisa dibawa. Ia bawa kopi. Meja kursi. Besok pagi-pagi sekali, ia sudah berada di dekat tempat pembuangan rongsokan. Menawarkan kopi kepada para tentara Jepang.

 

Laku? Tidak. Tentara Jepang tak ada mau yang mampir minum kopi.

 

Lalu keesokan harinya ia masak ayam putih. Minta dimassakan ibu. Untuk dijual bersamaan dengan kopi.

 

Berhasil? Belum juga. Tentara Jepang belum juga mau beli.

 

Eka pun mulai panik. Ayam dan kopinya tak laku. Kalau semuanya terus begitu, modal bisa habis. Bangkrut lagi. Sementara tujuan belum tercapai.

 

Akal cerdik berbisik. Ia harus mendekati komandan pasukan Jepang itu. Mengajaknya bicara. Membujuknya. Agar mau ke kedainya. Makan ayam dan minum kopi.

 

Tapi kan tidak mudah? Eka mengeluarkan senjata andalan. Ia menawarkan sang komandan makan ayam gratis. Tapi hanya sepotong saja. Bisa rugi kalau gratis semua.

 

Sang Komandan setuju. Ia datang ke kedai. Minum kopi makan ayam. Sang komandanpun senang. Lalu memerintahkan anak buahnya untuk makan minum di kedai. Eka lega. Dagangannya laku. Bisa dapat uang.

 

Tapi bukan itu tujuan utamanya. Setelah membuat sang komandang Jepang senang dengan jamuan ayam dan kopi gratis. Ia membujuk komandang soal rongsokan yang dibuang di pantai.

 

Sang komandan dengan senang mempersilahkan Eka membawa barang rongsokan itu. Hebatnya tanpa membayar sepeserpun, gratis.

 

Eka kegirangan. Ia bergegas mencari orang untuk mengangkut rongsokan-rongsokan itu. Saking banyaknya rongsokan itu, halaman rumahnya-termasuk halaman rumah tetangga penuh oleh rongsokan.

 

Pelan-pelan Eka memisahkan rongsokan tersebut. Besi bengkok diluruskan. Semen keras dipinggirkan. Yang utuh disimpan. Terigu yang terbakar dibersihkan. Bagian  yang terbakar dibuang. Yang masih bagus dipisahkan. Dikarungi lagi. Dijahit lagi sesempurna mungkin. Agar bisa dijual lagi.

 

Ajaibnya barang yang tadi dibuang-buang memberikan keuntungan. Rongsokan yang tadinya sampah berubah jadi cuan. Terigu dijual lagi. Besi dijual lagi. Semua habis dijual. Dapat uang banyak.

 

Yang tak dijual hanya semen. Semen ia gunakan untuk membangun kuburan oran kaya. Ia mendadak menjadi kontraktor pembangun kuburan setelah ada yang datang menawarkan kerjasama. Beberapa kuburan hasil karya Eka mash bisa dilihat di dekat bandara Makassar.

 

Hitung punya hitung, ia cuan Rp20 ribu dari rongsokan itu. Uang yang tak sedikit untuk zaman itu. Harga rumah dinding bata saja waktu itu hanya Rp1.000.

 

Ia makin percaya diri. Dengan modal yang besar ia mulai naik kelas. Bisnis minyak goreng. Daerah Selayar, Selatan Sulawesi dikenal sebagai penghasil minyak goreng. Ia pun ke sana. Naik kapal semalaman.

 

Ia borong minyak goreng. Makin banyak beli. Karena dapat diskon 20 persen. Sebab beli cara kontan.

 

Namun selang beberapa hari kemudian, saat masih berada di Selayar. Pemerintah Jepang memonopoli penjualan minyak goreng. Dengan mengeluarkan aturan bahwa penjualan semua minyak goreng swasta hanya boleh melalui Mitsubishi. Dengan harga jual ditetapkan Rp1,5 per litter.

 

Eka pusing tujuh keliling. Minyak goreng yang dibeli Rp4.000 per 18 litter harus dijual sangat murah kepada Jepang. Modal berjualan rongsokan habis ‘disedot’ minyak goreng. ‘Disedot’ monopoli Jepang.

 

Ia kembali ke Makassar. Memulai usaha baru. Usaha pembuatan roti dan gula. Kali ini ia berhasil lagi. Ia seolah punya tangan mas. Apa yang dipegang pasti berhasil. Kali ini ia bahkan bisa beli mobil. Dua sekaligus. Satu mobil beli secara inden Rp70 ribu. Satunya lagi dibeli dari kawan Rp30 ribu.

 

Eka naik kelas. Jadi orang terpandang di Makassar. Mantan kepala sekolahnya pun sempat membukakan pintu mobilnya. Saat ia datang berkunjung ke sekolah.

 

Takdir kembali datang menguji. Perang kemerdekaan meledak. Keadaan kacau lagi. Jalur logistik putus. Pasokan bahan baku gula dan lain-lain juga putus. Eka bangkrut lagi. Untuk kali ketiga.

 

Tapi setelah itu ia yakin dan percaya bisa bangkit. Karena sudah tiga kali bangkrut. Semua dijual. Termasuk dua mobil yang jadi kebanggaan. Ia ‘gowes’ lagi. Keliling Makassar lagi. Itu terjadi sekitar tahun 1948.

 

Tapi kebangkrutan ketiga ini berbeda dari sebelumnya. Kali ini ia merasa seluruh orang di Makassar mengejeknya. Orang-orang yang biasanya ramah-membukakan pintu mobil kini enggan menyapa. Menolehpun tidak.

 

Eka benar-benar terpuruk. Stress berat. Harga dirinya habis. Malu bukan kepalang. Sampai-sampai malu pulang.

 

Ia tak tahan lagi. Memilih menepi. Pergi ke Malino, sekitar satu jam perjalanan dari Makassar. Di daerah pegunungan itu ia berdiam diri. Menyepi. Lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca. Butuh waktu sekitar enam bulan hingga hatinya dingin.

 

Setelah bisa mengendalikan diri ia kembali ke Makassar. Saat itu TNI tengah berupaya menumpas pemberontokan Andi Aziz-Kahar Muzakar. Itu sekitar 1950. Saat itu, tentara kekurangan pangan. Banyak pedagang tak mau ambil resiko jadi pemasok. Takut tak dibayar.

 

Tapi Eka punya logika lain. Akal cerdiknya berbicara bahwa ini adalah TNI. Tentaranya negara. Walaupun negaranya masih baru-pasti punya uang kan. Ia pun memberanikan diri menjadi pemasok. Meski tak punya uang saat itu.

 

Ia kemudian mendatangi perusahaan dagang negara peninggalan Belanda. Dengan modal kepercayaan ia meminta dihutangi barang. Dengan jarak pembayaran dua minggu kemudian. Sesuai yang dijanjikan TNI di awal.

 

Barangpun didapat. Langsung dikirim ke TNI. Dua minggu berselang tak ada kabar pembayaran. Satu bulan berikutnya-sama-tak ada pembayaran. 90 hari berikutnya pun sama. Tak ada pembayaran.

 

Eka malu bukan kepalang. Tak bisa membayar kepercayaan. Dengan rendah hati ia datang menghadap. Menceritakan kondisi yang terjadi di lapangan. Menceritakan semua buka-bukaan.

 

Untungnya, setelah dua bulan tagihan akhirnya cair. Banyak sekali. Karena semua tagihan dibayar sekaligus, lunas. Ia punya banyak uang lagi. Kaya lagi. Plus…utang lunas.

 

Dari situlah Eka akrab dengan tentara. Saking akrabnya ia bisa numpang kapal tentara dan mengisinya dengan kopra.

 

Ia memanfaatkan kapal tentara untuk menggangkut kopra yang banyak di Manado. Di beli dengan harga murah. Dan dijual mahal di Makassar. Ia berubah jadi pedagang Kopra. Bahkan sempat dijuluki sebagai raja Kopra.

 

Belum lama menikmati kesuksesan, pecah pemberontakan PRRI-Permesta. Perang terjadi lagi. Keadaan kacau lagi. Ekonomi hancur lagi. Eka menyelamarkan diri. Pergi ke Surabaya dengan kapal sewaan. Kapal yang disewa untuk mengangkut 3 ton kopra. Ia pergi ke Surabaya-sementara kopra ditinggal begitu saja.

 

Eka pun bangkrut lagi. Untuk kali keempat. Meninggalkan hutang Rp 1 juta. Dan kali ini, ia tampak benar-benar kapok. Saking kapoknya tak mau kembali ke Makassar. Dan memilih tinggal di Surabaya. Tinggal di kamar 2×3 meter menumpang di rumah temannya.

 

Untuk melunasi hutang Eka menjual semua asset. Prinsipnya-kepercayaan nomor satu. Karena itu ia lebih memilih menjual rumah tiga tingkat dan asset lainnya. Demi membayar hutang dan menjaga kepercayaan.

 

Di Surabaya Eka bertemu Pangdam Brawijaya, Mayjen Basuki Rahmat. Karena sudah dekat dengan TNI Eka dipersilahkan menumpang kapal untuk diisi dengan dagangan. Ia pun mengirim bahan makanan dari Sulawesi ke Surabaya. Hasilnya dibagi rata.

 

Pada Agustus 1958, Pemerintah Indonesia membuat kebijakan moneter. Semua dana yang ada di bank wajib dibelikan obligasi pemerintah. Ekapun rugi lagi. Karena ia masih punya banyak kewajiban kepada bank.

 

Ia pun harus menjual pabrik minyak kelapa. Penggilingan padi. Serta kebun kopi dan karet. Semua dijual murah. Gara-gara banyak buruh bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dan enggan lagi diperintah-perintah. Keadaan saat itu diperparah dengan inflasi yang membuat kacau ekonomi.

 

 

Tangan Mas Eka

Eka Tjipta Widjaja meninggalkan legacy untuk bangsa Indonesia. Foto:Bolong.id

 

 

Inflasi mengajari banyak hal. Dari inflasi pulalah Eka menyukai emas. Baginya emas punya kelebihan. Tahan inflasi. Bisnisnya pun minyak goreng yang warnanya kebetulan keemasan. Jadilah ia mendirikan perusahaan yang diberi nama CV Sinar Mas pada 1962 di Surabaya. Lalu kemudian berubah menjadi perusahaan terbatas (PT).

 

Selang setahun kemudian, Eka pindah ke Jakarta. Membuka kantor di Pasar Pagi, Jakarta Barat. Usaha kopra terus maju. Ia menjadi pemasok kopra besar bagi pabrik-pabrik di Surabaya, Semarang dan Makasar.

 

Keuntungan yang melimpah dialirkan ke bisnis minyak goreng. Bisnis yang sudah digeluti sejak lama. Kemudian mendirikan pabrik minyak goreng Bimoli-akronim dari Bitung Manado Oli Limited. Bimoli berkembang pesat dan menguasai 60 persen pasar minyak goreng tanah air.

 

Sembari berbisnis minyak goreng, Eka melakukan diversifiasi.  Pada 1972 Eka mendirikan produsen soda api. Namanya Tjiwi Kimia. Ini adalah perusahaan cikal bakal Asia Pulp and Paper (APP).

 

Pada 1976, terbentuklah Indak Kiat. Ini merupakan perusahaan  patungan CV Berkat-Indonesia dan Chung Wha Pulp Corporation. Serta Yuen Foong Yu Paper Manufacturing Company Ltd-asal Taiwan. Dua tahun berselang mulailah produksi kertas. Saat itu baru sekitar 12 ribu ton pertahun. Lokasi pabriknya di Perawang-Riau, Serang-Jawa Barat, Tanggerang-Banten.

 

Di tahun-tahun berikutnya, produksi terus meningkat. Menjadi 100 ton keras bebas kayu perhari. Hingga 250 ton per hari pada tahun 1984,

 

Di tahun 1986, Sinar Mas Group menguasai saham Indah Kiat sebanyak 67 %. Dan pada April 1990, Tjiwi Kimia masuk ke Bursa Efek Jakarta. Dengan bantuan dana dari pasar modal, Tjiwi Kimia memulai operasi. Di tahun 1991 kapasitas operasinya bisa mencapai 200 jutaan ton. Pada 1992, Indah Kiat mengakuisi produsen kertas PT Sinar Dunia Makmur di Serang. Pabrik ini bisa menyumbang produksi sekitar 900 ton perhari.

 

Bisnis kertas pun mulai merambah ke bisnis turunannya-salah satunya produksi tisu. Lewat Pindo Deli, tisu yang dihasilkan bisa mencapai 400 ribu ton.

 

Baca Juga

 

Pada 1992 juga, APP mengembangkan sayap. Berinvestasi di China. Pabrik-pabrik kertas didirikan. Termasuk Ningbo Zhonghua. Goldeast Paper. Ningbo Asia. Bold Huasheng. Gold Hongye. Hainan Jinhai Pulp and Paper. Hingga Guangxi Jingui Pulp and Paper.

 

Saat itu, Eka sudah sangat kaya. Tak mungkin bangkrut lagi. Punya banyak pabrik. Tak hanya di Indonesia. Tapi juga di Asia.

 

Tapi makin besar pohon, terpaan angin semakin kencang. Krisis moneter datang menjelang. Kondisi Ekapun lagi tidak baik. Ia mengalami masalah jantung. Harus dibypass. Di Singapura pada 1999.

 

Begitu pula kondisi seluruh perusahaannya. Lagi sakit. Bank BII miliknya ‘harus disehatkan’. Diserahkan ke ke BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasiional). Hingga akhirnya diakuisisi oleh Maybank Malaysia.

 

Begitupa dengan grup Sinar Mas dan Asia Pulp and Paper (APP). Yang membawahi PT Indah Kiat. PT Lontar Papyrus. PT Tjiwi Kimia. PT Wira Karya Sakti. PT Pindo Deli. Dan PT-PT lainnya. Punya utang super besar mencapai Rp110 triliun. Di 60 bank di 40 negera berbeda. Hutang yang sudah terlalu besar. Tak mungkin lagi terbayar.

 

Tapi kali ini Eka tak bangkrut lagi. Mahkamah Agung (MA) datang sebagai penyelamat. MA memutuskan menolak seluruh gugatan kreditur asing. Dan menetapkan PT Indah Kiat tak perlu membayar hutang. Karena perjanjian hutang piutanggnya tidak sah. Berdasarkan hukum Indonesia.

 

Momentum itu membuat Sinar Mas Group kembali ke kejayaan. Semua hasil penjualan bisa digunakan untuk operasional. Untuk menyehatkan semua perusahaan yang lagi sakit. ‘Tanpa mikir bayar utang,’ kata Dahlan Iskan dikutip dari Disway.id.

 

Begitupula dengan Eka. Ia pun kembali sehat. Berhenti merokok. Berhasil berhenti dari hobi yang menyakitkan. Hingga akhirnya menutup mata pada 2019. Di usia ke 98 tahun. Usia yang tak banyak ditemukan di Indonesia. Terutama bagi seorang laki-laki.

 

Penghobi batu mulia itu mungkin sudah tidak ada lagi. Anak-anaknya mengambil alih perusahaan. Franky Wijaya mengendalikan Sinar Mas. Teguh Ganda Wjaya mengurusi APP dan bisnis kertas. Yang kini jadi penguasa dunia.

 

Tapi kerja keras 100 tahun Eka Tjipta Widjaja masih terasa. Lewat tangan mas Eka tercipta hal-hal menakjubkan. Sinar Mas dan Keberagamannya. APP dan pabrik kertasnya. Menjangkau 120 negara dan enam benua.

 

Lewat tangan masnya, Eka tak hanya mencipta Sinar Mas untu  dirinya. Tapi juga untuk Indonesia. Untuk puluhan ribu karyawannya. Sinar Mas untuk Indonesia untuk Dunia. (01)

 

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Comment