Latest

Kategori berita

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on print

Hari-hari Seusai G30S PKI

Hari-hari Seusai G30S PKI
Markas Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jakarta, pada 8 Oktober, hancur lebur oleh amukan massa, menyusul Peristiwa G30S. Foto: GETTY IMAGES via BBC Indonesia

30 September – (moerni) – G30S PKI menjadi sejarah kelam bangsa ini. Hari-hari seusainya tak kalah kelam. Begitu banyak luka yang ditinggalkan. Oleh gerakan yang terjadi pada 1965 itu.

 

Salah satunya penculikan enam jendral dan seorang kapten. Komandan TNI AD Jendral Ahmad Yani. Letnan Jendral Suprapto. Letna Jenderal MT Haryono. Letnan Jendral S Parman. Mayor Jendral DI Pandjaitan. Mayor Jendral Sutoyo Siswomiharjo. Dan Kapten Pierre Tendean. Tragedi ini dikenal dengan Lubang Buaya.

 

Satu-satunya jendral yang lolos adalah. Panglima TNI AH Nasution. Namun putrinya. Ade Irma Suryani jadi korban. Tewas. Begitupula ajudannya. Kapten Pierre Tendean. Yang diculik bersama enam jendral.

 

 

Hari-hari Seusai G30S PKI

DIAMANKAN : Seorang terduga simpatisan G30S dipriksa di bawah todongan senjata. Foto: GETTY IMAGES via BBC Indonesia

 

 

TNI yang saat itu dipimpin Panglima Konstrad Mayjen Soeharto. bergerak cepat. Melacak dan memburu pelaku G30S PKI. Lalu memadamkan pemberontakan. Menyatakan PKI sebagai dalang. Di balik upaya pengambil alihan kekuasan. Dengan kekerasan. Para tokohnya. Diburu dan ditangkap.

 

Ketua PKI DN Aidit. Dan Ketua Biro Khusus PKI Sam Kamaruzzaman. Kabur ke Jawa Tengah. Namun bisa ditangkap. Dan dibunuh. Tokoh PKI lainnya. Ada yang diadili di mahkamah milir luar biasa (Mahmilub). Dan sebagian lain dihukum mati.

 

Gerakan membrantas PKI tak sampai di situ. Organisasi dan gerakan-gerakan berbau PKI. Dan komunis disikat habis. Mulai dari Lekra. CGMI. Pemuda Rakyat. Barisan Tani Indonesia (BTI). Hingga Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan lainnya.

 

 

Hari-hari Seusai G30S PKI

KOMUNIS : Seorang mahasiswa keturunan Cina melindungi mukanya saat dicemooh dan diserang secara fisik oleh sejumlah pemuda yang menyerang Universitas Res Publika, pada 15 Oktober. Polisi dan tentara menangkap 40 mahasiswa -tak seorang pun di antaranya yang merupakan pengunjuk rasa. Foto: GETTY IMAGES via BBC Indonesia

 

 

Markas-markas PKI di daerah tak luput dari serangan. Begitupula dengan lembaga, kantor, universitas hingga toko-toko. Yang dituding terkait PKI.

 

Suasana begitu mencekam. Begitu menakutkan. Sejumlah laporan yang dikutip dari BBC News Indonesia menyebutkan. Sekitar 500 ribu jiwa terbunuh. Dalam hari-hari seusai G30S PKI. Khususnya di pulau Jawa dan Bali. Hampir sama dengan peristiwa Madiun 1948.

 

Puluhan ribu orang dibuang. Ke Pulau Buru. Dipenjara. Tanpa diadili. Salah satunya adalah. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer.

 

 

Hari-hari Seusai G30S PKI

NAIK TAHTA : khirnya, 11 Maret 1966, Presiden Sukarno, diikuti Mayjen Soeharto mengumumkan Surat Perintah Sebelas Maret di Istana Bogor, yang mengalihkan kekuasaan kepada perwira yang kemudian berkuasa selama 32 tahun. Foto: GETTY IMAGES via BBC Indonesia

 

 

Berakhirnya G30S PKI

 

Akhir G30S PKI ditandai dengan ‘naik tahta’ Mayjen Soeharto. Menggantikan Presiden Soekarno. G30SPKI kemudian ditetapkan. Sebagai Gerakan 30 September PKI. Sementara 1 Oktober. Ditetapkan sebagai hari kesaktian Pancasila.

 

 

Banyak sekali versi. Banyak sekali tafsir. Banyak sekali perdebatan. Dan banyak sekali wacana. Untuk menyudahi masa kelam bangsa. Namun hingga kini. Tak satupun upaya terwujud. Tinggallah G30S PKI menjadi kenangan pahit bangsa. Yang terus muncul. Setiap tahunnya. Di penghujung September.

 

Bukan tanpa alasan. Rasa sakit tak bisa dilupakan. Pengkhiatan sudah kepalang. PKI dan Komunisme bak momok menakutkan. Yang tak dinginkan apalagi sampai terulang. Cukuplah rasa sakit terpendam. Tapi bukan untuk dilupakan. Untuk dikenang. Agar anak cucu tak merasakan. (01)

 

Semua foto: adalah hak cipta Getty Images. Yang dipublish ulang via BBC News Indonesia 

 

Leave a Comment