Latest

Kategori berita

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on print

Kisah Tragedi Berdarah Kanjuruhan. “Kuburan Massal” Pintu 13 dan 14

Kisah Tragedi Berdarah Kanjuruhan. “Kuburan Massal” Pintu 13 dan 14

Cerita duka tragedi berdarah Kanjuruhan terus menyayat perasaan. Salah satunya soal “Kuburan Massal” Pintu 13 dan 14. Stadion Kanjuruhan. Pintu itu menjadi saksi. Betapa banyak nyawa melayang. Menurut catatan resmi. Ada 125 orang meninggal dunia. Dan lebih dari 300 orang terluka. Salah satu tragedi terburuk dunia sepakbola.

 

MALANG – Moerni

 

“Tolong…tolong…” jeritan itu terngiang-ngiang di telinga Dadang Indarto. Salah satu saksi mata tragedi berdarah Kanjuruhan, Malang. Malam itu. Dadang tak bisa tidur. Insiden berdarah itu menghantui pikirannya.

 

Pria 40 tahun ini tak pernah membayangkan. Malam minggu yang bahagia akan berubah menjadi malapetaka. Ratusan nyawa melayang. Di dalam ‘kandang’ Arema FC.

 

Warga Kelurahan Tembalangan Kota Malang, Jawa Timur. Menonton pertandingan bola bersama rekan-rekannya. Semua berjalan normal. Tidak ada tanda-tanda akan terjadi malapetaka.

 

Hingga sekitar tiga menit. Setelah pluit tanda pertandingan berbunyi. Semua berubah. Suasana tenang berubah mencekam. Kepanikan di mana-mana. Jerit histeris terdengar di mana-mana.

 

“Saya tidak bisa tidur. Seolah-olah korban (Kanjuruhan) di depan mata. Terdengar jeritan. Tolong…tolong.” Cerita Dadang. Dikutip dari BBC News Indonesia.

 

Sejurus kemudian. Sambung Dadang. Lapangan sudah dipenuhi oleh supporter. Saat itu. Suasana mulai mencekam. Penonton panik. Tak terkecuali Aparatur Sipil Negar a(ASN) di Kota Batu Malang itu.

 

Dadang pun bergegas. Menunju pintu 13. Untuk keluar menyelamatkan diri. Tapi pintu tertutup. Banyak orang tak bisa keluar. Berdesak-desakan di lorong. Dadang berlari. Bergegas. Kembali ke tribun.

 

 

Kisah Tragedi Berdarah Kanjuruhan. “Kuburan Massal” Pintu 13 dan 14

DUKA : Keluarga korban tragedi berdarah Kanjuruhan datang ke stadion dan melihat dari dekat Pintu 13 dan 14. Mereka terlihat tak kuasa menahan tangis. Foto: BBC Indonesia

 

 

Saat itu. Terdengarlah suara tembakan. Tembakan gas air mata. Tembakan kedua diarahkan ke tribun. Yang dipenuhi sesak penonton. Dor…tembakan ketiga mengenai tribun. Tempat Dadang berdiri.

 

Ia terkejut. Langsung tengkurap. Menutupi wajah dengan kaos. Karena seiisi tribun sudah penuh sesak asap gas air mata. Mata perih. Dada kembang kempis. Susah bernafas. Dadang merasakan itu semua. Itu pengalaman pertamanya. Terkena gas air mata.

 

Dadang bangkit. Dengan sisa tenaga yang ia punya. Berlari. Melompat. Ke arah pintu 14. Saat itulah. Di lorong itulah. Ia melilhat banyak orang. Sudah tergeletak. Bergelimpangan. Meregang. Tak berdaya. Termasuk temannya. Donna. Yang sudah tak bernyawa. “Kepala bocor. Dia meninggal. Saya gendong. Ke tempat aman.” Kisahnya.

 

Dadang menjerit. Minta tolong. Tapi tak ada satupun yang datang menolong. Ia kembali membantu. Salah seorang korban. Yang tergeletak. Tapi masih bernyawa. Ia menggotong orang itu. Ke dekat tribun VIP. Tapi di dalam. Ternyata sudah penuh. Penuh dengan jasad. Jasad yang berjejejer-jejer. Di dekat musala.

 

Malam itu Dadang akhirnya bisa selamat. Dari suasana mencekam. Di Kanjuruhan. Tapi tidak dengan keponakannya. Yang juga turut menonton pertandingan.

 

Dadang mendapat telepon. Dari kakaknya. Yang mengabarkan. Bahwa keponakannya Vera Puspita Ayu. Telah meninggal. Keponakannya itu baru berusia 20 tahun. Masih sangat muda. Cerita Dadang. Wajah keponakannya itu menghitam. Mungkin akibat terkena gas air mata.

 

Kejadian ini memukul Dadang. Tak hanya karena nyawanya yang hampir melayang. Tapi juga karena keponakannya. Temannya. Dan ratusan saudara-saudara Aremania lain yang turut jadi korban.

 

 

Kisah Tragedi Berdarah Kanjuruhan. “Kuburan Massal” Pintu 13 dan 14

Abel Camara menyaksikan langsung insiden di Stadion Kanjuruhan. Foto: ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO via sport.detik.com

 

 

Tragedi juga dialami Abel Camara. Striker Arema FC. Kepada media Portugal Mais Futebol dikutip dari Sport.detik.com. Abel menceritakan. Betapa mengerikan malam itu bagi dirinya.

 

Kepanikan dan histeria makin menjadi. Setelah penonton tak bisa menemukan jalan keluar. Dari stadion. Banyak penonton yang berlari. Menuju ruang ganti. Namun tetap tak selamat. Abel mengakui hal itu. Ia melihat mayat bergelimpangan di ruang ganti.

 

Pertandingan antara Arema FC vs Persebaya Surabaya. Bukan pertandingan biasa. Itu pertandingan derbi Jawa Timur. Ada gengsi yang dipertaruhkan. Dan sudah ada sejak lama. Dan sudah sering menyulut perselisihan. Tapi tidak pernah yang seperti ini. Memakan korban jiwa hingga ratusan orang.

 

“Ini adalah derby. Yang sangat lama. Dalam seminggu. Sudah terasa. Mereka bilang. Ini permainan hidup mati. Kita boleh kalah setiap pertandingan. Tapi jagan yang ini. Atmosfernya tegang.” Kata Camara. Dikutip dari sport.detik.com.

 

Sebelum insiden terjadi. Abel dan rekan-rekannya pergi ke arah tribun pendukung. Mereka hendak meminta maaf. Atas kekalahan Arema. Mereka sadar. Ini pertandingan yang teramat berharga.

 

Tapi tiba-tiba semua tak kendali. Keadaan berubah menjadi tragedi. Abel menceritakan. Sedikitnya ada sekitar tujuh atau delapan orang. Yang tewas di ruang ganti.

 

 

Semau itu terekam jelas di ingatan. Karena para pemain harus berada di tempat itu. Selama hampir empat jam. Menunggu semua keadaan menjadi tenang.

 

Setelah tenang. Para pemain keluar dari lokasi kejadian. Ada darah di mana-mana. Sepatu kets berceceran. Entah punya siapa. Pakaian berhamburan. Di seluruh aula stadion. “Saat kami keluar stadion. Dengan Bus. Ada mobil sipil. Dan polisi terbakar.” Ceritanya.

 

Cerita serupa juga diutarakan Kiper Arema FC. Teguh Amiruddin. Teguh bahkan sempat membantu. Mengevakuasi korban tragedi Kanjuruhan.

 

Ia menyaksikan. Saat gerombolan  suporter. Berdesak-desakan menjari jalan keluar. Dari stadion. Ada yang terjatuh. Terinjak. Ada juga yang sesak. Dan kehabisan oksigen.

 

Sorak sorai penonton seketika berubah. Jadi jeritas histeris ketakutan. Teguh menyaksikan. Saat jasad tak bernyawa. Berjejer di depan ruang ganti pemain. Niat hati hendak menolong. Tapi apa daya. Maut sudah datang menjemput. Anda bisa membayangkan. Bagaimana rasanya menyaksikan jasad tergeletak tak bernyawa. Seperti tak berharga. Sementara. Tak ada satupun yang bisa diperbuat. Untuk menolong. Itulah yang dirasakan Teguh. Seperti dikutip dari bolasports.com. (*)

 

Leave a Comment