Latest

Kategori berita

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on print

Manis Tanpa Pemanis

Manis Tanpa Pemanis
Ilustrasi minuman manis tanpa pemanis. Foto:halodoc

29 September – (moerni) – Minuman manis kini tengah jadi sorotan. Makin banyak masyarakat yang khawatir. Terhadap kandungan gula dalam minuman manis siap saji.

 

Di Indonesia, Konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) meningkatan tajam. Naik hingga 15 kali lipat. Dalam dua puluh tahun terakhir. Menurut Badan Pengawasi Obat dan Makanan (BPOM). Minuman yang terkategori MBDK. Adalah minuman yang memiliki izin edar. Dan masa penyimpanan. Lebih dari tujuh hari.

 

Data Wild dikutip via Kompas menunjukkan. Indonesia berada di peringkat ketiga. Di Asia Tenggara. Dalam hal konsumsi MBDK.

 

Indonesia hanya kalah dari Thailand yang konsumsinya mencapai 59,81 liter. Per orang per tahun. Lalu di peringkat kedua ada Maldives. Dengan konsumsi sebesar 37,86 liter. Per orang per tahun. Sementara konsumsi MBDK Indonesia mencapai 20,23 liter. Per orang per tahun.

 

Negara lain yang juga masuk dalam jajaran lima besar. Adalah Sri Lanka dan Myanmar. Dengan konsumsi masing-masing sebesar 10,78 liter dan 5,21 liter. Per orang per tahun.

 

Khusus air teh dalam kemasan. Konsumsinya mencapai 250 juta liter. Itu data tahun 2011. Dan tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2014. Angkanya langsung meningkat menjadi 400 juta liter. Bisa dibayangkan berapa banyak konsumsinya saat ini?

 

 

Konsumsi MBDK yang terus meningkat. Salah satunya disumbang oleh gerai-gerai yang saat ini ‘menjamur’. Tak melulu teh. Tapi mulai berkembang ke minuman jenis lain. Boba. Kopi susu. Atau lainnya.

 

Khusus produsen yang memiliki lebih dari 250 gerai. Pemerintah sudah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan No 30 tahun 2013. Aturan ini mewajibkan produsen. Untuk menyampaikan informasi kandungan gula. Garam. Dan lemak.

 

Gita Kusnadi. Peneliti Kesehatan Masyarakat Center for Indonesia Strategic Development (CISDI) mengatakan. Pelaksanaan dan pengawasan selama ini belum jelas. Dan banyak industri pangan siap saji. Tidak secara terbuka. Mencantumkan kandungan gula.

 

Selain itu. Belum ada sanksi jelas. Yang bisa dikenakan. Terhadap gerai-gerai pangan. Yang tidak mencantumkan keterangan pangan siap saji.

 

“Kalau mereka sudah punya peraturan itu. Pengawasan dan sanksinya seperti apa? Itu perlu dikaji lebih lanjut. Oleh Kemenkes. Dan BPOM.” Ujar Gita dikutip dari BBC Indonesia.

 

Gita juga mendesak. Agar pemerintah segera menerapkan tarif cukai pemanis 20%. Demi membatasi penggunaan pemanis berlebihan.

 

Wacana cukai minuman berpemanis sudah ada sejak 2016. Namun hingga kini, aturan itu belum juga eksis.

 

Menurut Gita. Penerapan cukai pemanis diharapkan bisa menekan konsumsi MBDK hingga 24%. Serta mencegah 1,4 juta. Kasus diabetes. Selama 25 tahun.

 

Cara ini sudah terbukti di Meksiko. Di mana penerapan cukai menekan pembelian MBDK dari 19% menjaddi 10 %. Begitupula di Inggris. Yang sukses mendorong penurunan gula sebesar 11%. Pada 2016-2017.

 

 

Minuman manis tanpa pemanis

Ilustrasi minuman manis tanpa menggunakan pemanis. Foto: Doyan Resep

 

 

Dampak Buruk Konsumsi Minuman Manis Berlebih

 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan. Batasan konsumsi gula tambahan. Per orang per hari. Hanya sebesar 50 gram. Atau empat sendok makan. Dan penggunaan gula tambahan di bawah 25 gram. Per orang per hari. Dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

 

Dan sebaliknya. Penggunaan pemanis melebihi pedoman. Yang merujuk pada kandungan gula alami. Bisa berbahaya. Bisa meningkatkan gula dalam darah. Dan membuan hormon insulin. Jadi tidak sensitif terhadap gula.

 

Kadar gula darah tinggi. Dapat menyebabkan penyakit kencing manis atau diabetes. Serta memicu komplikasi penyakit lain. Seperti ginjal, stroke, jantung. Hingga penyakit tidak menular lain.

 

Situs resmi Kementrian Kesehatan menunjukkan. Kencing manis adalah penyakit mematikan. Tertinggi ketiga di Indonesia. Setelah stroke dan jantung. Pada 2021, jumlah penderitanya sekitar 19,47 juta. Dan diprediksi meningkat dua hingga tiga kali lipat. Dalam 10 tahun mendatang.

 

Sementara di dunia. Jumlah penderitanya mencapai 422 juta orang. Empat kali lebih banyak. Dari 30 tahun yang lalu.

 

Akibatnya. Beban biaya kesehatan terhadap penyakit tidak menular meningkat. Mencapai Rp20,27 triliun. Menurut data BPJS Kesehatan pada 2019.

 

 

Minuman manis tanpa pemanis

Ilustrasi minuman manis tanpa pemanis buatan. Foto: net

 

 

Respon Pemerintah Terhadap Wacana Cukai Minuman Manis

 

Direktur Jenderal Bea Cukai Askolani. Dikutip dari BBC News Indonesia mengatakan. Pemerintah belum bisa memastikan. Kebijakan cukai minuman manis bisa diterapkan tahun depan. Menurutnya pemerintah masih harus melakukan pertimbangan komprehensif.

 

Karena banyak faktor yang akan dihadapi. Di tahun depan. Di antaranya; faktor kesehatan. Pemulihan ekonomi nasional. Hingga perkembangan situasi global dan domestic.

 

Pada 2021. Pemerintah berencana memperkuat penerapan cukai MBDK dengan Peraturan Presiden (Perpres). Nomor 104 Tahun 2021. Tentang Rincian. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tahun Anggaran 2022.

 

Dalam beleid disebutkan. Pemerintah mematok penerimaan Negara. Dari cukai minuman berpemanis dalam kemasan. Sebesar Rp 1,5 triliun pada 2022. Sementara penerimaan cukai kantong plastic. Ditarget sebesar Rp 1,9 triliun. Dan untuk 2023, pemerintah menargetkan pencapaian cukai 2023 hingga Rp303,19 miliar. (01)

 

Leave a Comment