Latest

Kategori berita

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on print

Cinta Rasuna

Cinta Rasuna
Rasuna Said karikatur. Foto: Perpusnas/Dinas Kebudayaan Jogja (direktoratk2krs.kemsos.go.id)

14 September – (moerni) – Sebuah karikatur perempuan muncul di Google Doodle hari ini. Perempuan itu adalah Rasuna Said. Namanya begitu terkenal. Di pakai jadi nama jalan di Jakarta. HR Rasuna Said. Sama seperti di Padang dan Payakumbuh.

 

Rasuna Said adalah salah satu sosok penting di balik kemerdekaan Indonesia. Saking pentingnya, Google memberi apresiasi. Mengingatnya. Lewat Doodlenya. Dan mengucapkan Ulang Tahun ke 112 untuknya. Lalu bagaimana dengan kita? Ada yang mengenalnya?

 

Rasuna Said adalah satu dari sembilan perempuan yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Ia sejajar dengan Kartini. Sama-sama punya rekam jejak panjang dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

 

Perjuangan Rasuna pantang menyerah. Tak kenal lelah. Ia berjuang dengan apapun yang dimiliki. Termasuk keluarga dan dirinya sendiri.

 

Rasuna lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat. 14 September 1920. Saat itu masih disebut Hindia Belanda-belum Indonesia. Nama ayahnya adalah Haji Muhammad Said. Seorang saudar Minangkabau. Layaknya orang Padang, Rasuna punya gelar. Gelarnya Rangkayo. Sebuah gelar adat bagi orang yang berakhlak mulai dan kaya raya.

 

Keluarganya tergolong Islam yang taat. Karenanya pada waktu itu Rasuna disekolahkan ke sekolah agama. Bukan sekolah sekuler. Ia kemudian pindah ke Padang Panjang. Bersekolah di sana. Sekolahnya bernama Diniyah School. Sekolah yang menggabungkan pelajaran agama dan pelajaran khusus.

 

 

Cinta Rasuna Said

RUMAH : Rumah Rasuna Said. Jl. H. Udin Rahmani, Nagari Maninjau, Tanjung Raya, Agam Sumatera Barat. Foto: Wikipedia

 

 

Setelah tamat sekolah dasar (SD), Rasuna dikirim ke Pesantre Ar-Rasyidiyah. Lalu melanjutkan sekolah ke Diniyah Putri Padang Panjang. Di sana ia bertemu Rahmah El Yunusiyyah. Yang jadi rekan seperjuangan.

 

Ia pandai. Lagi pemberani. Pendidikan tak hanya membuatnya pintar. Tapi juga berwawasan. Ia tak mau hanya dirinya yang bisa mengenyam pendidikan. Ia mau perempuan lain juga mendapatkan pendidikan. Pendidikan yang sama seperti dirinya. Pendidikan yang di zaman itu-sangat “mahal harganya” bagi seorang perempuan.

 

Kecintaannya kepada pendidikan mendorongnya menjadi seorang guru. Ia bercita-cita mengabdi dengan ilmu yang dimiliki. Tapi Rasuna punya cinta lain. Cinta politik. Cinta kemerdekaan. Untuk bangsa ini.

 

Lantas ia pun menyelipkan pendidikan politik di tempatnya mengajar. Tapi pihak sekolah tak setuju. Rasunapun berbeda pendapat.

 

Cintanya terhadap kemerdekaan tak sampai di situ. Ia terus berjuang. Menjadi aktivis Sarekat Rakyat (SR). Lewat keanggotan di Partai Sarekat Islam. Hingga bergabung dan mendirikan Persatuan Muslimin Indonesia atau PERMI. Di Bukit Tinggi pada 1930-an.

 

Di tahun itupula ia bercerai dengan suaminya Duski Samad. Yang menikahinya pada 1929. Sekaligus memberi seorang putri.

 

Rasuna juga dikenal sebagai orator ulung. Pidatonya tak pernah tanggung. Bisa membuat Belanda linglung.

 

Salah satu pidatonya yang terkenal adalah ‘Langkah-Langkah Menuju Kemerdekaan Rakyat Indonesia’. Pidato itu disampaikan pada rapat umum Permi. Di Padang Panjang 23 Oktober 1932.

 

Sepekan kemudian, ia kembali berpidato. Dengan suara lantang ia mengutuk Belanda. Karena menghancurkan mata pencaharian rakyat. Karena menindas dengan kolonialisme.

 

Di kesempatan lain ia pun menyatakan imperialisme sebagai musuh. Dan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

 

Pidatonya membuat Belanda berang. Belanda meradang. Rasunapun ditangkap. Didakwa menebar kebencian. Didakwa pelanggaran berbicara atau Speekdelict. Dan jadilah Rasuna perempuan pertama yang didakwa dengan dakwaan itu.

 

Dakwaan yang mengejutkan. Dakwaan yang diharapkan bisa memupus perjuangan. Dakwaan yang diharapkan bisa membungkam teriak kemerdekaan.

 

Rasuna didakwa. Di bawa ke Pulau Jawa. Ia dipenjara. Di Semarang, Tengah Jawa. 15 bulan lamanya. Seribuan orang mengiringi keberangkatan kapal yang membawanya. Ke pulau Jawa.

 

Tapi Rasuna tak pernah diam. Hukuman penjara tak membuat jiwanya padam. Justru sebaliknya. Ia makin terkenal. Karena proses persidangan digunakan untuk berorasi. Orasi tentang cita-cita kemerdekaan.

 

Rasuna dibebaskan dari penjara pada 1934. Ia sekolah lagi. Yang dipilih Islamic College. Pimpinan KH Mochtar Jahja. Dan Dr Kusuma Atmaja.

 

 

 

Perjuangan Rasuna Said Lewat Media

 

Perjuangan Rasuna berlanjut. Tapi kali ini lewat media. Pada 1935 Rasuna menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah. Nama majalahnya Raya. Isi tulisannya sama. Mengkritik kolonialisme Belanda. Jadilah Raya sebagai media yang dicap radikal oleh Belanda. Sekaligus jadi tonggak perlawanan di Sumatera Barat.

 

Tapi Belanda mampu mempersempit ruang geraknya. Sementara, rekan-rekannya tak bisa berbuat apa-apa. Rasuna kecewa. Merana. Dan akhirnya memutuskan pindah ke Medan, Sumatera Utara. Pada 1937.

 

Meninggalkan kampung halaman. Meninggalkan keluarga. Meninggalkan semua yang ia punya. Kecuali cintanya kepada kemerdekaan.

 

Di Medan ia kembali berjuang. Lewat pendikan lagi. Dengan mendirikan perguruan putri. Tujuannya masih sama. Menyebarluaskan gagasannya. Gasan untuk merdeka.

 

Di Medan ia sempat membuat koran mingguan. Diberi nama Menara Poeteri. Koran ini punya slogan yang sama dengan Bung Karno. “Ini dadaku. Mana dadamu”. Koran ini berbicara banyak hal tentang hak-hak perempuan. Tapi sasarannya tetap pergerakan. Serta kemerdekaan.

 

 

Cinta Rasuna

Official Website of The Ministry of Education and Culture – kebudayaan.kemdikbud.go.id

 

 

Karena masalah keuangan, koran mingguan ini akhirnya tutup. Dan Rasuna memilih pulang kampung. Ke Sumatera Barat.

 

Saat Jepang masuk ke tanah air, Rasuna menjadi pendiri organisasi pemuda Nippon Raya. Sebelum akhirnya dibubarkan oleh Jepang.

 

Perjuangan Setelah Kemerdekaan

 

Kemerdekaan yang dicita-citakan Rasuna akhirnya datang. Namun perjuangan belum berakhir. Rasuna terus berjuangan lewat organisasi yang mendukung pemerintah.

 

Pada 1947 ia menjadi anggota senior. Sekaligus ketua bagian perempuan untuk Front Pertahanan Nasional. Ia juga kemudian bergabung dengan Volksfront-nya Tan Malaka. Saat terjadi gesekan dengan pemerintah, Rasuna sempat jadi tahanan rumah. Selama seminggu.

 

Pada 1950 ia pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPR RIS). Dan pada 1959 ia diangkat menjadi anggota dewan pertimbangan agung. Itu adalah perjuangan terakhirnya untuk kemerdekaan.

 

Ia kemudian wafat di Jakarta pada 1965. Karena Kanker yang dideritanya. Untuk keluarga, ia meninggalkan buah cintanya dengan Duski Samad. Yakni Seorang putri. Laman wikipediamenulis namanya Auda Zaschkya Duski. Serta enam orang cucu. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Kalibata. Jakarta Selatan.

 

Sementara untuk kita, Rasuna meninggalkan ‘cinta’ sejatinya. Yakni kemerdekaan. Kemerdekaan untuk semua. Bangsa Indonesia. (01)

 

 

Leave a Comment