Latest

Kategori berita

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on print

Salah Statement

Salah Statement
ORGANISASI BAYANGAN : Menteri Nadim Makarim berbicara di markas PBB soal Organisasi Bayangan di Kemendikbud-Ristek. Foto: Instagram/Tangkapan layar

28 September – (moerni) – Sorotan tengah tertuju ke Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Teknologi (Mendikbud-Ristek). Nadiem Makarim. Gara-gara salah statement. Saat menyebut ‘organisasi bayangan’. Di acara pertemuan transformasi pendidikan. Di markas PBB. Amerika Serikat. Pertengahan bulan ini.

 

Di forum internasional itu. Pria kelahiran Juli 1984 membeberkan. Ada 400 orang yang bekerja sebagai ‘organisasi bayangan’. Semuanya di luar sistem kementrian. Mereja juga bukan vendor kementrian. Mereka terdiri dari; product manager, software engineer, data scientist. Tapi kerja mereka melekat pada kementrian. Bahkan seorang product manager. Sama levelnya dengan direktur jendral.

 

Polemik pun muncul. Orag-orang bertanya, siapa di balik ‘organisasi bayangan’ itu? Apa latar belakangannya? Apa tujuannya? Siapa yang membiayainya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya.

 

Wakil rakyat turun tangan. Nadiem dipanggil. Ditanya soal 400 orang ‘organisasi bayangan’. Nadiem dicecar. Dikejar pertanyaan. Seputar tim bayangan. Dari tayangan televisi. Nadiem beberapa kali terlihat tertunduk. Entah apa arti gesture itu. Tapi sepertinya. Ia tersudut.

 

Nadiempun mengkoreksi. Di depan anggota DPR. Ia menyebut 400 orang tersebut. Adalah organisasi ‘mirroring’. Maksudnya sebuah organisasi yang menjadi mitra kemendikbud. “Yang saya maskud. Organisasi ini adalah mirroring. Terhadap kementrian kami,” ujarnya dikutip dari BBC Indonesia Senin (26/9).

 

Suami Franka Franklin akhirnya mengaku. Tim bayangan yang ia gembar-gemborkan. Adalah vendor. Namanya GovTech Edu. Anak perusahaanya PT Telkom.

 

Kemendikbud-Ristek dan GovTech Edu sudah bekerjasama sejak 2020. Ada lima produk yang sudah dihasilkan. Yakni; Merdeka Mengajar. ARKAS. SIPLah. Kampus Merdeka. Rapor Pendidikan. Dan Belajar.id.

 

Itu diakui juga oleh Direktur Digital Bisnis Telkom. Fajrin Rasyid. Kata dia, GovTech Edu sudah berkali-kali menang tender. Di Kemendikbud-Ristek.

 

 

 

Kritik Terhadap Nadiem

 

Indra Charismiadji mengkritik pernyataan Nadiem. Menurut Direktur Direktort Pendidikan Vox Populi Insitut Indonesia. Pernyatan Nadiem yang mana. Yang harus dipercaya publik. Pernyataan di markas PBB atau di DPR?

 

Dalam bincang di CNN Indonesia Selasa (27/9) malam Indra menilai. Sebagai seorang menteri. Tugas Nadiem bukanlah membuat aplikasi. Tapi membangun sumber daya manusia (SDM). “Kalau dia membangga-banggakan aplikasi. Dia sudah disorientasi.” Katanya.

 

Alasannya. Karena tak semua aplikasi yang telah dibuat. Bisa diterapkan di daerah. Apalagi mengingat ada 17 ribu pulau di Indonesia. Dan tak seluruhnya memiliki koneksi internet yang baik.

 

Pengamat Pendidikan Mohammad Abduhzen meminta Nadiem transparan. Soal organisasi bayangan dan anggaran  yang digunakan. Tak hanya untuk diketahui kemampuan orang-orangnya. Tapi juga agar bisa diaudit dan dimintai pertanggungjawaban.

 

“Menurut saya. Ini model manajemen publik. Manajemen pemerintah. Yang dikelola secara bisnis,” kata Abduhzen dikutip dari BBC Indonesia.

 

 

Yang disampaikan Abduhzen tidak salah. Rekam jejak Nadiem memang pebisnis. Ia juga punya punya gelar master bisnis. Dari Harvard Business School Brown University. Selulus dari situ ia kerja di Mckinsey & Company. Jadi konsultan di sana.

 

Lalu mendirikan Zalora Indonesia. Sempat jadi Chief Innovaton Officer (CIO) Kartuku. Kemudian mendirikan Gojek sejak 2011. Sampai sekarang jadi salah satu start-up terbesar di Indonesia. Semuanya seputar bisnis. Jadi tak heran jika Nadiem bekerja ala pebisnis.

 

 

Aplikasi yang dibuat Kemendikbud tidak sedikit. Ada lima. Ada untuk dosen. Mahasiswa. Dan guru. Untuk menilai apakah aplikasi ini bermanfaat atau tidak. Mungkin terlalu dini.

 

Tapi yang saat ini terlihat. Belum adanya Peta Jalan Pendidikan yang jelas. Yang kebutuhannya sudah mendesak. Agar pendidikan Indonesia terus maju. Tak tertinggal dari negara lain. Jangan seperti dulu. Setiap ganti mentri. Ganti kurikulum. Akhirnya gak maju-maju. Cuma jalan di tempat.

 

Setiap negara maju punya kurikulum baku. Kurikulum yang tertata jelas. Kongkret. Dan nyata. Sehingga, ketika terjadi pergantian menteri. Bahkan presiden sekalipun. Cetak biru pendidikan tidak berubah. Berjalan sesuai sistem yang sudah dibangun.

 

Salah Statement

Anggota BPK RI memberikan keterangan terkait “Organisasi Bayangan” Kemendikbud-Ristek”. Foto: Twitter/tangkapan layar

 

 

BPK Ikut Turun Tangan ?

 

Polemik salah statement ‘organisasi bayangan’. Juga mendapat perhatian dari Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK). Tapi belum diketahui. Apakan BPK telah melakukan pemeriksaan atau belum.

 

Mengutip BBC Indonesia. Anggota Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Achsanul Qosasi mengatakan. BPK sudah melakukan pemeriksaan terhadap Kemendikbud-Ristek.

 

Namun katanya. Jika ‘Organisasi bayangan’ memiliki peran yang sama dengan dirjen. Maka itu menyalahi susunan organisasi. Tata kerja (STOK). Dan undang-undang ASN. “Atau pak Menteri “salah statement”. Saking bangganya sama GovTech-Edu.” Cuitnya. (01)

 

Leave a Comment