Latest

Kategori berita

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on print

Kisah Aremania Korban Tragedi Berdarah Kanjuruhan. Baru Kali Pertama Nonton di Stadion, Anak Diselamatkan Polisi

Kisah Aremania Korban Tragedi Berdarah Kanjuruhan. Baru Kali Pertama Nonton di Stadion, Anak Diselamatkan Polisi
TRAGEDI : Suasana di depan Stadion Kanjuruhan Malang seusai kerusuhan. Inzet foto Keluarga Yulianton & Devi. Pasutri Aremania yang meninggal dunia. Foto: Getty Images via BBC Indonesia dan Kompas.com. Kolase foto:moerni

Tragedi berdarah Kanjuruhan. menyisakan sejuta kisah duka. Ratusan jiwa melayang. Ada orang tua yang harus berpisah dengan anak. Suami harus berpisah dengan istri. Kakak harus berpisah dengan adik. Salah satunya dirasakan oleh keluarga M Yulianton (40) dan istri Devi Ratna S (30). Serta anaknya M Alfiansyah (11). Pasangan suami istri Aremania ini meninggal dunia. Dalam tragedi Kanjuruhan. Hanya anaknya-M Alfiansyah yang selamat.

 

MALANG – Moerni

 

Rumah duka di jalan Bareng Raya 2 G. RT 14 RW 8, Kota Malang, Jawa Timur ramai pelayat. Ada keluarga. Sanak saudara. Handai tolan. Hingga tetangga. Semua datang berduka. Memanjat doa. Untuk kepergian pasutri M Yulianton (40) dan Devi Ratna S (30). Yang meninggal dunia. Dalam tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan. Pasca-pertandingan Arema FC vs Persebaya. Sabtu (1/10/2022). Sementra anak semata wayang mereka. M Alfiansyah (11). Selamat dari insiden berdarah itu.

 

Doni (43), salah seorang keluarga korban bercerita. Seputar kejadian yang menimpa pasutri Yulianton dan Devi. Katanya, selain Yulianton dan Devi. Banyak warga sekitar yang turut pergi ke stadion. Untuk menyaksikan pertandingan Arema vs Persebaya. Tak hanya orang tua. Sejumlah anak-anakpun turut serta.

 

Ada sekitar 20 warga Bareng Raya. Yang menonton derbi Jatim pada kesempatan itu. Termasuk tiga anak kecil. Yang salah satunya adalah anak laki-laki Doni. Yang baru berusia 10 tahun. Ada juga anak perempuan tetangganya. Yang umurnya hampir sama dengan anak Doni.

 

Doni memperkirakan. Kedua korban meninggal dunia. Karena terdesak oleh suporter lain. Yang akan keluar. Hingga akhirnya menghirup gas air mata. Korban sempat dibawa ke RS Teja Husada. Kabupaten Malang. “Jenazah sampai rumah sekitar subuh.” Kata Doni dikutip dari KompasMinggu (2/10).

 

Sedangkan. Anak korban dapat selamat. Setelah meminta pertolongan ke polisi. “Kemungkinan saudara saya ini. Kemudian jatuh. Dari tangga tribun. Mukanya sudah membiru pucat. Anaknya minta bantuan. Ke polisi. Terus selamat,” ceritanya.

 

Doni menceritakan. Yulianton sudah sering menyaksikan pertandingan sepakbola di stadion. Namun tidak demikian dengan istrinya. Devi. Kejadian ini, adalah pengalaman pertama. Sekaigus yang terakhir buat Devi. Menyaksikan pertandingan sepakbola di stadion. Selama ini. Devi diketahui tak pernah ikut suami. Menonton bola di stadion. Ia selalu menunggu di rumah.

 

Yang lebih menyedihkan. Tahun ini M Alfiansyah terpaksa merayakan ulang tahun sendiri. Tanpa didampingi kedua orang tuanya. Alfiansyah akan merayakan ultah ke 12. Pada November bulan depan. Yulianton dan Devi sudah berencana untuk merayakan ultah bersama. “Orangtuanya (kedua korban). Ingin sekali merayakan ulang tahun anaknya. Sebenarnya,” ungkapnya.

 

Doni juga sempat bercerita soal insiden di Stadion Kanjuruhan. Menurutnya. Kericuhan terjadi sekitar pukul 22.00 WIB. Awalnya. ada dua suporter turun ke lapangan. Kemudian polisi menghalau massa. Yang turun. Menggunakan gas air mata. Awalnya gas air mata ditembakkan ke lapangan. Tapi kemudian ditembakkan ke arah tribun pintu 12.

 

Saat kejadian. Doni dan temannya berada di pintu 14. Gas air mata menyebar. Ke tribun penonton. Karena terbawa angin.

 

Rezqi Wahyu. Saksi mata tragedi Kanjuruhan. Bercerita lewat media sosial. Warga Kecamatan Karangploso. Kabupaten Malang. Mengutarakan kronologi kejadian. Lewat akun Twitter-nya @RezqiWahyu_05. Sabtu (2/10) lalu.

 

 

Kisah Aremania Korban Tragedi Berdarah Kanjuruhan. Baru Kali Pertama Nonton di Stadion, Anak Diselamatkan Polisi

Tulisan saksi mata tragedi Kanjuruhan di akun twitter. Foto: Twitter/tangkapan layar akun @RezqiWahyu_05

 

 

Secara umum tulis Rezqi, pertandingan berjalan lancar. Hingga akhir pertandingan. Saat jeda istirahat babak pertama. Memang sempat terjadi kericuhan. Di Tribun 12-13. Namun, bisa diamankan petugas.

 

Lalu Kick off dimulai. Pertandingan babak kedua berjalan aman. Tanpa kericuhan. Yang ada hanya suporter Arema. Saling melontarkan psywar. Ke arah pemain Persebaya.

 

Kata Rezki. Tragedi dimulai usai pertandingan babak kedua berakhir. Para pemain. Pelatih. Hingga manajer Arema. Mendekati tribun bagian timur. Untuk memberikan gestur minta maaf. Kepada para suporter mereka.

 

Saat itulah. Salah seorang supporter. Dari tribun selatan. Nekat masuk ke lapangan. Dan mendekati tim. Kemudian menyusul supoter lainnya. Nekat masuk dan mendekati. Sergio Silva dan Maringa. Tindakan suporter tersebut. Diikuti oleh beberapa orang lain.

 

“Kemudian. Ada lagi beberapa oknum. Y ang ikut masuk. Untuk meluapkan kekecewaan. Kepada pemain Arema. Terlihat John Alfarizi. Mencoba memberi pengertian. Kepadan oknum-oknum tersebut.” Tulis Rezqi.

 

Kondisi seketika berubah ricuh. Di ikuti lempar-lempar berbagai macam benda. Ke arah lapangan. Para suporter makin tak terkendali. Akhirnya pemain digiring masuk. Ke ruang ganti. Dengan kawalan pihak berwajib.

 

Petugas terus berupaya. Memukul mundur suporter. Yang makin banyak. Menginvasi lapangan. Ada suporter yang terkena pentungan petugas.

 

“Terhitung puluhan gas air mata. Sudah ditembakkan ke arah suporter. Disetiap sudut lapangan. Telah dikelilingi gas air mata. Ada juga yang langsung ditembakkan. Ke arah tribun penonton. Yaitu Tribun 10,” ungkap Rezqi.

 

 

Banyak emak-emak. Wanita-wanita. Orang-orang tua. Hingga anak-anak. Terlihat sesak tak berdaya. “Gak kuat ikut berjubel. Untuk keluar dari stadion. Mereka sesak karena terkena gas air mata. Seluruh pintu keluar penuh. Dan terjadi macet,” lanjutnya.

 

Rezqi melihat banyak suporter terkapar dan pingsan. Sementara di luar stadion. Gas air mata kembali ditembakkan. Di sekitar Tribun 2.

 

“Kondisi luar Stadion Kanjuruhan. Sangat mencekam. Banyak suporter. Yang lemas bergelimpangan. Teriakan dan tangisan wanita. Supporter yang berlumuran darah. Mobil hancur. Kata-kata makian. Dan amarah,” lanjutnya. (*)

 

Leave a Comment