Latest

Kategori berita

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on print

Kisah Tragedi Berdarah Kanjuruhan: Wajah Korban Biru dan Menghitam, Nyaris Tak Bisa Dikenali

Kisah Tragedi Berdarah Kanjuruhan: Wajah Korban Biru dan Menghitam, Nyaris Tak Bisa Dikenali
DUKA : Sumarsih, ibu korban Muhammad Rafi. Salah seorang korban meninggal dunia. Tragedi Kanjuruhan (kiri). Para keluarga korban mencoba mengenali para korban lewat foto-foto yang disebar sukarelawan. Foto-Foto: Kompas.TV/Tangkapan layar. Kolase: Moerni.id

Kisah tragedi berdarah Kanjuruhan masih menyesakkan dada. Sejumlah saksi mata termasuk keluarga korban. Mulai mau bercerita. Tentang apa yang terjadi. Di Stadion Kanjuruhan. Sabtu malam itu.

 

MALANG – Moerni

 

“Bu Rafi gak ono (meninggal). Bu. Rafi meningga dunia. Kena korban Arema.” Kenang Sumarsih. Ibu dari Ibnu Muhammad Rafi. Salah seorang korban meninggal dunia. Tragedi Kanjuruhan.

 

Telepon itu datang dari anak sulungnya. Yang malam itu. Juga menonton pertandingan antara tuan rumah Arema FC dan Persebaya Surabaya.

 

Rafi berangkat ke stadion bersama dua saudaranya. Kakak pertama menonton di VVIP. Yang nomor dua menonton di VIP. Sementara Rafi yang anak ketiga. Kata ibunya. Menonton dari tribun ekonomi. Alasannya. Mau kumpul sama teman-teman SMAnya.

 

Sumarsih tak merasakan firasat apapun. Namun ketika mendapat kabar tentang Rafi. Ia shock bukan main. Bak tersambar petir. “Saya teriak. Saya nangis. Saya nggak bisa apa-apa. Waktu itu. Saya hanya bisa nangis. Dan teriak aja.” Ungkapnya di Kompas Petang KOMPAS TV, Senin (3/10) lalu.

 

Setelah lebih tenang. Ia bergegas memerintahkan anak sulungnya. Untuk mencari keberadaan Rafi. Anak sulungnya mencoba menelpon Rafi. Begitupula Sumarsih. Tapi Rafi tak mengangkat telepon. Hanya berdering berkali-kali.

 

Hingga akhirnya. Usaha Sumarsih menelpon berhasil. Ada yang mengangkat telepon. Tapi yang bicara suara perempuan. Bukan Rafi. Perempuan itu bilang ke Sumarsih. Untuk mengecek Rafi di rumah sakit. Rumah Sakit Islam (RSI) Gondanglegi, Malang.

 

Sumarsih langsung meminta anak sulungnya berangkat ke RSI Gondanglegi. Anak sulungnya berangkat bersama anak ke dua. Naik motor berboncengan.

 

Mereka mencoba mencari Rafi. Di ruang perawatan. Tapi tak bisa menemukan adiknya. “Kata perawatnya. Kalau nggak ada. Tolong cari di ruang jenazah.” Cerita Sumarsih. Menirukan ucapan perawat kepada anak-anaknya. Saat di RSI Gondanglegi.

 

Anak sulung Sumarsih bergegas ke ruang jenazah. Saat itu sudah berjejer kantong jenazah. Lalu dibuka satu persatu. Tapi tak ada Rafi. Anak sulung Sumarsih tak bisa menemukan adik. Rafi.

 

 

Kisah Tragedi Berdarah Kanjuruhan: Wajah Korban Biru dan Menghitam, Nyaris Tak Bisa Dikenali

DUKA : Keluarga korban tragedi berdarah Kanjuruhan datang ke stadion dan melihat dari dekat Pintu 13 dan 14. Foto: BBC Indonesia

 

 

Lalu kantong jenazah dibuka sekali lagi. Kali ini lebih lebar. Sampai tampak pakaian yang dikenakan korban. “Dibuka satu per satu. Ternyata di situ ada Rafi. Dia teriak. Dia telepon saya.” Kenang Sumarsih.

 

Sumarsih menceritakan. Anak sulungnya kesulitan mengenali Rafi. Karena wajah para korban. Semua terlihat sama. Wajah menghitam dan membiru.

 

Sumarsihpun mengisahkan cerita teman-teman Rafi. Yang waktu kejadian menonton bersama-sama di Stadion Kanjuruhan. Katanya, saat terjadi tembakan gas air mata. Dan kerusuhan di Stadion Kanjuruhan. Rafi terpisah dari teman-temannya. Semua berpencar. Berusaha menyalamatkan diri masing-masing.

 

“Kata temannya Rafi. Yang kebetulan bersama Rafi waktu itu. Yang masuk ke lapangan dihalau. Untuk ke tribun. Setelah dari tribun. Pintu keluarnya ditutup. Dan di tribun. Disemprot gas air mata.” terangnya.

 

Bagaimana anak sulungnya bisa selamat? Sumarsih menceritakan. Pada saat terjadi kericuhan. Anaknya yang kecil digendong anak yang nomor satu. “Keluar itu sulit sekali. Adiknya itu nangis teriak-teriak. Karena pedih. Matanya pedih kena gas air mata. Alhamdulillah bisa keluar.” Sambungnya.

 

Sumarsih juga mengucapkan terima kasih. Atas perhatian dan bantuan dari berbagai pihak. Ia telah mendapat santunan. Dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pemerintah Kota Malang. Dan Bank Jatim. Atas meninggalnya Rafi. Meski kata Sumarsih. Tragedi ini bukanlah kesalahan pemerintah.

 

 

Kesaksian lain diutarakan. Korwil Aremania Jalur Gazza Sukorejo Pasuruan. Amin Fals. Yang ada di lokasi kejadian. Saat itu. Ia masih memimpin rekan-rekannya.

 

Amin sudah punya firasat. Jika Arema kalah di kandang. Saat lawan Persebaya. Maka akan ada hal buruk terjadi. Karena itu. Ia meminta rekan-rekannya. Keluar lebih dulu. Ketika waktu pertandingan memasuki masa injury time. Sebelum terjadi kerusuhan. Dan akhirnya semua aggota Aremania Jalur Gazza selamat.

 

“Pas kejadian. Saya di situ. Tepatnya saya di shuttle ban stadion. Untuk mengambil bendera besar. Yang biasa dibawa.” Kata Amin Fals kepada Suryamalang. Dikutip via Kompas.tv.

 

Sepengetahuannya. Pertandingan berjalan lancar. Dan tak ada yang aneh. Dan pendukung Arema. Sepertinya sudah ikhlas menerima kekalahan 2-3 dari Persebaya.

 

“Pemain Arema itu biasa. Berbaris di tengah lapangan. Teman-teman itu. Mau protes ke pemain. Karena harga diri. Kalah dari Persebaya. Di kandang. Kalau lawan Persebaya. Itu berat rasanya.” Ceritanya.

 

Tak lama kemudian. Amin mendengar suara tembakan. Gas air mata. Ia bingung. Sepengetahuannya  yang faham sepakbola. Sesuai aturan FIFA. Tak boleh ada gas air mata. Di dalam stadion.

 

Amin melihat sendiri. Dengan mata kepala. Semua kejadia malam itu. Saat orang-orang terkena gas air mata. Termasuk dirinya. Dan saat orang-orang tak bisa keluar. Karena pintu tertutup. Menurut Amin. Yang ditembakkan polisi bukanlah air mata. “Itu gas beracun,” ujarnya.

 

“Saya mau pulang semalam itu. Mampir ke RS. Wafa Kepanjen. Saya lihat teman-teman. Yang meninggal. Wajahnya banyak yang biru. Mengarah ke hitam,” ungkapnya.

 

Hingga sekarang. Amin masih tak habis fikir. Pengamanan macam apa. Yang dilakukan malam itu. “Yang jaga itu polisi luar Malang. Dari Ngawi. Madiun. Mojokerto. Sidoarjo. Probolinggo. Pasuruan. Terus polisi Malang. Suruh jaga apa? Kok dikasih polisi. Penugasan dari luar.” Ujarnya.

 

Soal kerusakan di luar stadion, Amin mengatakan. Hal itu merupakan luapan emosi. Setelah mengetahui banyaknya korban di dalam stadion. “Bukan saya membanding-bandingkan ya. Kemarin Bonek buat rusuh di Sidoarjo. Lawan RANS FC. Tidak ada gas air mata. Karena pemain tim tamu sudah aman.”  tutupnya. (*)

 

Leave a Comment