Latest

Kategori berita

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on print

53 WNI Disekap di Kamboja, Dipaksa jadi Penipu Investasi Bodong

WNI Disekap di Kamboja-BP3MI Jawa Barat Gagalkan Pengiriman 46 CPMI Nonprosedural
MIGRAN: BP3MI Jawa Barat beberapa waktu lalu berhasil menggagalkan Pengiriman 46 CPMI Nonprosedural. Foto: bp2mi

Saat ini, sekitar 53 warga negara Indonesia atau WNI disekap di Kamboja. Mereka dikabarkan disekap oleh kartel judi online asal Cina. Mereka menjadi korban penipuan perusahaan investasi palsu di Sihanoukville, Kamboja. Di sana, mereka dipaksa untuk menjadi scammer alias penipu untuk tujuan investasi bodong.

 

Direktur perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI Judha Nugraha membenarkan informasi tersebut. Menurutnya, para WNI telah ditipu oleh calon pemberi kerja. Alih-alih menempatkan para WNI sesai kontrak kerja, para WNI justru dipaksa untuk melakukan penipuan. Dengan target penipuannya sebagian besar adalah masyarakat Indonesia.

 

“Berdasarkan modus kasus-kasus sebelumnya, mereka diminta melakukan scamming utk tujuan investasi palsu. Target scamming kebanyakan masyarakat Indonesia,” kata Judha dikutip dari CNN Indonesia Kamis (28/7) lalu.

 

Kasus ini bukan kali pertama. Pada 2021, KBRI Pnom Penh berhasil menangani dan memulangkan 119 WNI korban penipuan penempatan kerja. Para WNI itu juga dipaksa bekerja untuk melakukan penipuan.

 

Pada 2022, jumlah kasus mengalami peningkatan. Hingga Juli 2022, tercatat ada sekitar 291 WNI yang menjadi korban penipuan kerja. “133 (WNI) di antaranya sudah berhasil dipulangkan,” kata Judha.

 

 

WNI Disekap di Kamboja-Pekerja Migran Berbaris Sebelum Pelepasan

LEPAS: Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) berbaris sebelum diberangkatkan menuju Korea Selatan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (18/07). Foto: Antara via BBC Indonesia

 

 

Penyab WNI Disekap di Kamboja

Iming-iming bekerja di luar negeri dengan upah menggiurkan diduga menjadi penyebab kasus ini terjadi. Alih-alih mendapatkan apa yang dicita-citakan, para WNI justru jadi sasaran empuk penipuan.

 

Ketua Pusat Studi Migrasi LSM Migrant Care, Anis Hidayah mengatakan, sindikat perdagangan manusia biasanya menyasar daerah yang tingkat penganggurannya tinggi. Banyak pekerja migran. Serta usia yang produktif.

 

Artikel Menarik Lainnya

 

Pandemi Covid-19 juga menjadi salah penyebabnya. Pandemi membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Dan di saat yang bersamaan, banyak bermunculan tawaran kerja lewat media sosial, utamanya Facebook.

 

“Sindikat perdagangan manusia ini terorganisir dan calonya pasti ada juga di Indonesia,” ujar Anis Hidayah dikutip dari BBC Indonesia, Jumat (29/7).

 

 

WNI Disekap di Kamboja - Suasana Pencegahan Covid 19 di Depan Kantor KBRI Pnom Phen Kamboja

KBRI: Pelayanan Konsuler di Depan Kantor KBRI Phnom Penh Kamboja. Foto:Kemlu
Jaga Jarak Fisik

 

 

WNI Disekap di Kamboja, Seperti Apa Asal Mulanya?

 

Untuk diketahui, Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) pernah menggagalkan pengiriman enam calon pekerja migran ilegal ke Kamboja pada tahun 2020.

 

Berdasarkan pemeriksaan, mereka mengaku mendapat tawaran bekerja di Kamboja melalui kerabat. Upah yang ditawarkan yakni gaji Rp4 juta dan uang makan US$250 dollar atau sekitar Rp3,7 juta setiap bulannya.

 

Mengutip Khmer Times, pada Maret 2022 pihak berwenang setempat berhasil menyelamatkan 44 WNI. Mereka adalah korban perdagangan manusia. Mereka “diperdagangan layaknya ternak” oleh sindikat perjudian online China.

 

Mereka beroperasi di Sihanoukville dan Chrey Thum, sebuah kota pelabuhan di selatan Kamboja. Daerah ini adalah lokasi favorit investor dari China. Tempat itu dikenal sebagai sarang perjudian legal dan ilegal.

 

“Jika mereka gagal mencapai target minimum, hidup mereka serasa di neraka. Untuk keluar dari perusahaan, operator sindikat memaksa mereka atau keluarganya membayar Rp44-74 juta sebagai kompensasi membebaskan mereka.” Tukasnya kepada BBC Indonesia.

 

Artikel Menarik Lainnya

 

 

Langkah Apa yang Bisa Ambil?  

 

 

Sindikat judi online ini biasanya memaksa para korban untuk membuat akun profil palsu di Tinder, WhatsApp, dan Facebook. Akun itu nantinya digunakan untuk mengajak calon investasi bodong dengan skepa Ponzi. Baik itu investasi pada mata uang kripto, valuta asing, maupun saham.

 

Ketua Pusat Studi Migrasi LSM Migrant Care, Anis Hidayah mengatakan, pemerintah perlu menggencarkan kembali upaya edukasi tentang migrasi yang aman. Serta ciri-ciri kejahatan perdagangan manusia, yang selama ini terhenti akibat pandemi Covid-19.

 

Pemerintah atau tim siber dari Kominfo dan Polri harus gencar menangkis dan menutup akun-akun lowongan kerja tak resmi yang berseliweran di media sosial seperti Facebook.

 

 

Artikel Menarik Lainnya

 

 

“Karena berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Migran pasal 41 memandatkan desa harus memiliki upaya-upaya pemberian informasi kepada masyarakat. Nah ini belum optimal,” tukasnya kepada BBC Indonesia.

 

“Akun-akun ini kan bisa dilihat dan dipantau karena orangnya bisa diidentifikasi. Yang saya perhatikan upaya meng-counter akun-akun itu masih minim dilakukan.” sambungnya.

 

Persoalan lain, menurut Anis, pihak Ditjen Imigrasi harus mengontrol anak buahnya di lapangan. Sebab ia menduga, lolosnya para korban sindikat ini tak lepas dari adanya keterlibatan oknum petugas imigrasi.

 

“Petugas imigrasi ini mestinya pengontrol terakhir, tapi selama ini mereka hampir diam. Dugaan kuat mereka jadi bagian. Nah bagaimana diusut oknum-oknum ini. Hal itu hampir enggak pernah dilakukan di Indonesia.” Tandasnya. (01)

 

 

Leave a Comment